Kamis, 05 Februari 2015

Hilangnya Laptop Si Unyil “Betul, betul, betul” apa yang terlintas dipikiran anda ketika mendengar kalimat tersebut?, pastilah pikiran anda akan mengarah kepada dua sosok tokoh kartun bersaudara asal negeri jiran. Meski pun lebih mirip dengan salah satu makhluk astral asli Negara kita, namun hampir semua orang dinegeri ini, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa mengenal dan menggemari tokoh kartun tersebut. Bukan hanya kartun berkepala pelontos itu, kini makin banyak film kartun berbahasa melaysia yang menghiasi layar kaca Indonesia. Sudah tentu, anak-anak yang menjadi sasaran empuk berbagai dampak yang ditimbulkan film kartun impor tersebut. Tanpa bermaksud mengeyampingkan muatan positif dari kartun tersebut, namun kita patut memperhitungkan dampak negatif yang ditimbulkan serial kartun asal negeri jiran itu. Jika ditelaah lebih lanjut, selain alur cerita, sebenarnya yang membuat kebanyakan anak-anak tertarik dengan kartun tersebut adalah bahasa dan logat yang diucapkan oleh para tokohnya. Coba kita bayangkan jika kartun tersebut menggunakan bahasa Indonesia, apakah bisa terkenal seperti saat ini ?. Bahasa merupakan salah satu ciri yang menggambarkan besarnya peradaban suatu bangsa selain filsafat dan arsitektur. Melihat betapa pentingnya bahasa, maka kita wajib memproteksi diri dan orang-orang disekitar kita ,akan dampak negatif film-film kartun asal negeri jiran yang dapat mempengaruhi minat penggunaan bahasa pada anak-anak. Secara Psikologis anak-anak cenderung meniru berbagi hal yang sering mereka lihat dan dengar. Tidak terkecuali bahasa para tokoh diserial film kartun asal Malaysia tersebut. Bahasa Indonesia dan bahasa melaysia sebenarnya berasal dari akar bahasa yang sama, sehingga penyebutan bahasa melaysia lebih mudah dibandingkan bahasa inggris dan bahasa asing lainnya. Dengan mudahnya anak-anak memahami makna bahasa Malaysia ada kecenderungan mereka menganggap bahwa bahasa Malaysia sama dengan bahasa Indonesia dan lebih tertarik menggunakannya dalam pergaulan sehari-hari. Meskipun dalam berbagai film kartun asal Malaysia mempunyai subtitle (terjemahan), tapi coba kita pikirkan dampaknya terhadap anak-anak usia dini yang belum terlalu paham dan lancar membaca dan mengikuti kecepatan munculnya subtitle (terjemahan) difilm tersebut. Anak-anak pun terkesan semakin kehilangan rasa bangga terhadap bahasa bangsanya sendiri. Tentunya hal ini sangat berpengaruh terhadap eksistensi bahasa Indonesia di negeri kita sendiri. Kian hari makin terlihat, mulai pudarnya identitas bangsa didalam diri para putra-putri bangsa Indonesia akibat tergerus arus Globalisasi yang tidak diimbangi dengan penanaman moral, dan nilai luhur bangsa. Hal ini pun terlihat pada kalangan anak-anak, mulai dari permainan, penampilan dan pola hidup sampai gaya bahasa pun cenderung mulai berubah meniru kebudayaan bangsa lain. Jika Si Unyil sudah sering menggunakan bahasa negeri seberang menggantikan bahasanya sendiri, maka proses belajar si Unyil akan terhambat bahkan terganggu akibat ketidak samaan struktur bahasa Malaysia dan Indonesia. Tanpa bermaksud mendiskreditkan Bahasa Malaysia, kenyataannya meskipun berasal dari rumpun bahasa yang sama, tetapi bahasa Malaysia sering menggunakan bahasa asing yang disisipkan dalam dialog sehari-hari, serta struktur bahasanya yang rancu jika di digunakan ditengah-tengah masyarakat Indonesia pada umumnya. Bahasa ibaratkan sebuah Laptop, media yang sering kita gunakan untuk belajar dan berkarya saat ini. dimana dengan bahasa kita dapat menggali ilmu pengetahuan satu sama lain. Jika bahasa bangsa sendiri mulai diabaikan oleh para anak-anak, maka si Unyil ibaratkan Kehilangan Laptop sebagai sarana untuk mendapatkan berbagai ilmu pengetahuan. Sudah sewajarnya jika kita mulai berusaha menanamkan nilai luhur bangsa sendiri dan mengedepankan penggunaan bahasa Indonesia kepada para anak-anak kita, calon penerus bangsa.

Sabtu, 31 Januari 2015

Quo Vadis Pemimpin di Indonesia

“Pilih saya, saya akan ini, itu, bekerja terus menerus, tunduk hanya pada perintah rakyat, menyejahterakan rakyat, meningkatkan perekonomian, membangun ini, membangun itu”, demikianlah kata-kata yang selalu dilontarkan dari mulut para calon pemimpin rakyat pada masa kampanye. Sebahagian orang menjadi bersemangat karena kata-kata mereka, sebagian lagi menilai ungkapan mereka hanya omong kosong belaka, dan ada sebahagian lagi yang lebih ekstrim yaitu mereka yang tidak mau tahu, pokoknya masih bisa makan, “its oke wae” kata mereka. Tentunya menarik melihat fenomena ini disaat si calon pemimpin telah meraih kursi yang mereka idamkan. Dapat dilihat pada berbagai media elektronik dan media cetak, ramai memberitakan tentang pemimpin yang menghianati amanah rakyatnya. Sebenarnya apa yang salah dari para “sang pemimpin” sehingga sering disebut demikian?.

Secara materil hampir semua dari mereka merupakan kalangan kaya sebelum menjadi pejabat, dan hampir semua memiliki singkatan didepan dan dibelakang namanya yang dapat menjelaskan bahwa si pemilik nama, mempunyai pendidikan yang tinggi. Bahkan penulis yakin semua KTP mereka, kolom agamanya terisi dengan jelas. Lalu, kenapa sampai sekarang masih ditemui pemimpin yang hanya obral janji, tidak amanah, dan kerap melakukan tindakan KKN. Tentu banyak factor penyebab pemimpin terkesan lain dimulut lain ditindakan, faktor tersebut diantaranya
1. Kekhilafan atau kesalahan yang lumrah terjadi.
2. Pemimpin tersebut menjadikan profesinya sebagai ladang tempat memanen kekayaan dan ketenaran.
3. Pemimpin tersebut  hanyalah orang suruhan,titipan bahkan boneka yang menjadi pemulus kepentingan golongan tertentu, Pada kesempatan kali ini,penulis tidak membahas terlalu panjang untuk hal ini.

Kurangnya kesadaran tentang hakikat manusia dan hakikat pemimpin,   merupakan faktor utama terjadinya fenomena diatas. Mereka tahu bahwa mereka manusia tapi kebanyakan dari mereka tidak mengerti hakikat manusia sebenarnya. Manusia sebenarnya adalah Makhluk yang diciptakan oleh Allah Subhanahuwata’ala   yang dianugerahkan kepadanya akal untuk berfikir membedakan hal yang benar dan yang salah,  selain beribadah kepada Tuhan, manusia mau tidak mau harus saling berinteraksi satu sama lain, para homo socius ini dituntut untuk menjalin interaksi diantara mereka dengan dasar kepedulian. Kepedulian ini diwujudkan dengan saling tolong-menolong, menghormati, serta saling menyejahterakan dan melindungi. Mengingat pemimpin merupakan seorang yang mempunyai wewenang untuk mengatur orang banyak, maka Pemimpin menjadi pemeran utama dalam mewujudkan hal diatas, Seorang pemimpin dihadapkan terhadap dua pilihan, menjadi manusia sebenarnya dengan memimpin orang banyak kembali kepada hakikat manusia, atau bisa menjadi bukan manusia jika menyalahi amanah yang diberikan kepadanya dengan sengaja.

Para pemimpin negeri ini mempertontonkan perilaku yang mementingkan diri sendiri dan golongan, diatas kepentingan rakyat, hal ini merupakan suatu perwujudan dari sifat keserakahan terhadap hak mengatur satu sama lain. Mereka saling berseteru, tuduh menuduh, bahkan saling membunuh demi menancapkan panji kekuasaanya masing-masing, suatu kenyataan yang tidak patut dicontoh. Pantas saja beberapa orang mendukung pernyataan Plautus salah seorang  filsuf Humanologi bahwa “manusia merupakan serigala terhadap manusia lain” (Homo Homini Lupus) jika melihat sifat-sifat itu. Tentu saja pendapat Plautus ini penulis anggap salah besar  karena hanya menilai keseluruhan manusia secara parsial. Menurut hemat penulis, Suatu penilaian dianggap berlaku umum jika menilai gambaran keseluruhan sifat objek yang akan dinilai. Manusia merupakan mahluk berakal dan bersifat sosial.


Kembali kepermasalahan kepemimpinan. Para pemimpin sudah sepantasnya lebih memperdulikan rakyatnya dibanding kepentingan pribadi dan golongannya. Pemimpin ditunjuk untuk melaksanakan tugas dan amanah yang diberikan kepadanya dengan baik dan sebenar-benarnya sebagai mana sumpah yang pernah mereka ucapkan dibawah kitab suci dengan nama Tuhan. Sudah seharusnya para pemimpin dinegeri ini diarahkan untuk kembali mengingat janji-janji serta sumpah mereka. Disamping itu kita harus ingat ungkapan bahwa, pemimpin merupakan gambaran dari rakyatnya, tentu ungkapan ini mengajak kita kembali mengintrospeksi diri masing-masing. Apakah masih ada sifat seperti yang dipertontonkan para pejabat pada diri kita atau tidak. Karena untuk membuat suatu perubahan besar langkah pertama yang kita harus lakukan adalah mengubah kebiasaan buruk diri kita sendiri, demi kebaikan kita bersama kedepannya.  
CINCIN BATU BACAN, boleh atau tidak ?

      Fenomena cincin batu bacan, mungkin itu topik yang sedang hangat ditengah masyarakat Sulawesi selatan akhir ini. Contohnya, dapat dilihat langsung di Jalan Aroepala-Tun Abdul Razak ( Hertasning baru ), dari pagi hingga petang ramai warga datang ke pera pedagang yang menjual cincin beraneka warna tersebut. Tapi apa sajakah motivasi orang-orang tersebut untuk memakai Cincin batu bacan ? Ini yang harus dipertanyakan, jangan sampai motivasi yang tidak didasari oleh ilmu itu, dapat mengantarkan kita ke jurang kesyirikan(mempersekutukan Allah). Memang memakainya tidak apa-apa, asal sesuai dengan kaidah pemakaian cincin sesuai Syariat islam yang saya tuangkan dalam beberapa poin berikut ini :

1) Larangan mengenakan cincin pada jari tengah dan telunjuk hanya berlaku bagi laki-laki, adapun bagi wanita dibolehkan, telah dinukil ijma’ kebolehannya bagi wanita oleh An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim, demikian pula yang difatwakan Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah
2) Laki-laki boleh mengenakan cincin perak, sedangkan emas diharamkan bagi laki-laki, baik emas murni maupun bercampur dengan bahan lain, baik cincin maupun perhiasan lainnya ataupun jam tangan yang bercampur emas, semuanya diharamkan bagi laki-laki
3) Wanita boleh mengenakan cincin emas maupun perak, bahkan sebagian ulama telah menukil ijma’ akan kebolehannya, sehingga pendapat yang melarangnya sangat lemah
4) Memakai cincin besi dan tembaga terlarang bagi laki-laki maupun wanita karena keduanya merupakan pakaian penduduk neraka, sehingga dilarang oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam
5) Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengenakan cincin beliau pada jari kelingking, sebagian ulama membolehkan di jari manis
6) Boleh mengenakan cincin di tangan kanan maupun kiri, selain pada dua jari yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits di atas
7) Tukar cincin bagi pengantin tidak disyari’atkan, bahkan hal itu dapat mengandung tiga macam kemungkaran:
Pertama: Tasyabbuh kepada orang-orang kafir.
Kedua: Jika calon pengantin belum melakukan akad nikah atau bahkan masih pacaran (baca: pengantar kepada zina) maka hukumnya haram jika mereka saling bersentuhan.
Ketiga: Jika terdapat keyakinan bahwa selama cincin itu masih digunakan oleh pasangannya maka hubungan mereka akan langgeng maka hal ini termasuk syirik (menyekutukan Allah ta’ala), sebab hanya Allah ta’ala Yang Maha Mampu melanggengkan hubungan keduanya. Demikian faidah dari Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullahu ta’ala dan Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullahu ta’ala. (Sofyan,2013)


          Ada pun mengenai Bebatuan yang melekat pada cincin, berikut ini adalah beberapa hadts dan riwayat Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam yang saya paparkan berikut ini
         Beberapa riwayat menerangkan bahwa Nabi sendiri juga mengenakan cincin yang terpasang di jari kelingkingnya sebagaimana hadis riwayat Anas bin Malik mengatakan, Cincin Rasulullah terbuat dari perak dan batunya merupakan batu Habasyi, (H.R. Muslim & Tirmidzi), hadis ini diderajatkan hasan sahih, dan dishahihkan oleh Al-Albani.
“Dari Anas bin Malik ra ia berkata, bahwa cincin Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam itu terbuat dari perak dan mata cincinya itu mata cincin Habasyi”. (H.R. Muslim)
        Ilham kadir (dalam AS Kambie , 2015) mengemukakan bahwa "Dalil di atas juga menunjukkan bahwa batu cincin Rasulullah berjenis Habsyi, sejenis batu berwarna hitam kemerah-merahan yang berasal dari Afrika, riwayat lain menyebutkan, Batu Akik Yaman. Jenis batu ini dapat ditemui di Afrika dan Yaman, dan ciri-cirinya dikenali dengan warna merah tua pekat atau merah darah, walau terlihat kehitam-hitaman, jika diliat dengan cahaya laser akan terpancar merah tua pekak, tidak jauh beda dengan batu bacan asal Indonesia.
      Jadi dapat disimpulkan bahwa, memakai batu Cincin batu bacan diperbolehkan asal sesuai dengan Hukum Islam yang tertuang dalam anjuran Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam,
Demikian tulisan singkat saya ini, semoga bermanfaat. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu

Penulis : ISMAIL
Kritik yang membangun sangat diperlukan oleh penulis untuk memperbaiki tulisan-tulisan selanjutnya.

Rabu, 16 Oktober 2013

PERBANDINGAN PANCASILA DENGAN IDEOLOGI LAIN



PERBANDINGAN PANCASILA DENGAN IDEOLOGI LAIN

Ideologi Pancasila
Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sanskertapañca berarti lima dan Å›Ä«la berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.
Lima sendi utama penyusun Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan tercantum pada paragraf ke-4 Preambule (Pembukaan) Undang-undang Dasar 1945.
Meskipun terjadi perubahan kandungan dan urutan lima sila Pancasila yang berlangsung dalam beberapa tahap selama masa perumusan Pancasila pada tahun 1945, tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila
Pancasila adalah pandangan hidup bangsa dan dasar negara Republik Indonesia. Pancasila juga merupakan sumber kejiwaan masyarakat dan negara Republik Indonesia. Maka manusia Indonesia menjadikan pengamalan Pancasila sebagai perjuangan utama dalam kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan kengaraan. Oleh karena itu pengalamannya harus dimulai dari setiap warga negara Indonesia, setiap penyelenggara negara yang secara meluas akan berkembang menjadi pengalaman Pancasila oleh setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan, baik dipusat maupun di daerah.
Ideologi pancasila di Indonesia memiliki 5 sila, dan maknanya masing-masing. Yakni:
A. SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA
1.                 Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
2.                 Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.
3.                 Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
4.                 Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.
5.                 Menolak kepercayaan atheisme di Indonesia.
B. SILA KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB
1.                 Mengakui persamaan derajat persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.
2.                 Saling mencintai sesama manusia.
3.                 Mengembangkan sikap tenggang rasa.
4.                 Tidak semena-mena terhadap orang lain.
5.                 Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
6.                 Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
7.                 Berani membela kebenaran dan keadilan.
8.                 Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu dikembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
C. SILA PERSATUAN INDONESIA
1.                 Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
2.                 Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
3.                 Cinta Tanah Air dan Bangsa.
4.                 Bangga sebagai Bangsa Indonesia dan ber-Tanah Air Indonesia.
5.                 Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.
D. SILA KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN / PERWAKILAN
1.                 Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.
2.                 Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
3.                 Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
4.                 Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan.
5.                 Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil musyawarah.
6.                 Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
7.                 Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
E. SILA KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA
1.                 Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong-royong.
2.                 Bersikap adil.
3.                 Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
4.                 Menghormati hak-hak orang lain.
5.                 Suka memberi pertolongan kepada orang lain.
6.                 Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.
7.                 Tidak bersifat boros.
8.                 Tidak bergaya hidup mewah.
9.                 Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
10.             Suka bekerja keras.
11.             Menghargai hasil karya orang lain.
12.             Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.
Ketetapan ini kemudian dicabut dengan Tap MPR no. I/MPR/2003 dengan 45 butir Pancasila.

Ideologi Liberal

Liberalisme adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama atau kalau kata guru PKn saya (Pak Mustakim) ideologi Liberalisme adalah sebuah ideologi yang mengutamakan kepentingan individu dan mengenyampingkan kepentingan negara. Ideologi ini sangat berbeda dengan ideologi komunis karena pengertiannya saja sudah beda. Berdasarkan kata guru PKn (Pak Mustakim), pengertian dari ideologi komunisme adalah sebuah ideologi yang mengutamakan kepentingan negara dan mengenyampingkan kepentingan individu. Sangat berbeda sekali dengan ideologi Liberalisme.
Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Liberalisme menghendaki adanya, pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang mendukung usaha pribadi (private enterprise) yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang transparan, dan menolak adanya pembatasan terhadap pemilikan individu. Oleh karena itu paham liberalisme lebih lanjut menjadi dasar bagi tumbuhnya .
Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama mendasarkan kebebasan mayoritas. Bandingkan OxfordManifesto dari Liberal Internasional: "Hak-hak dan kondisi ini hanya dapat diperoleh melalui demokrasi yang sejati. Demokrasi sejati tidak terpisahkan dari kebebasan politik dan didasarkan pada persetujuan yang dilakukan dengan sadar, bebas, dan yang diketahui benar (enlightened) dari kelompok mayoritas, yang diungkapkan melalui surat suara yang bebas dan rahasia, dengan menghargai kebebasan dan pandangan-pandangan kaum minoritas.
Pandangan-pandangan liberalisme dengan paham agama seringkali berbenturan karena liberalisme menghendaki penisbian dari semua tata nilai, bahkan dari agama sekalipun. meski dalam prakteknya berbeda-beda di setiap negara, tetapi secara umum liberalisme menganggap agama adalah pengekangan terhadap potensi akal manusia.

Contoh negara liberal adalah seperti Amerika Serikat, Inggris, Spanyol, Italia, dan Prancis.

Ideologi Komunis
Komunisme adalah salah satu ideologi di dunia, selain kapitalisme dan ideologi lainnya. Komunisme lahir sebagai reaksi terhadap kapitalisme di abad ke-19, yang mana mereka itu mementingkan individu pemilik dan mengesampingkan buruh.
negara komunis adalah nehara yang menggunakan idiologi bahwa setiap warga negaranya mempunyai darajat yang sama satu sama lain. Istilah komunisme sering dicampuradukkan dengan Marxisme. Komunisme adalah ideologi yang digunakan partai komunis di seluruh dunia. Racikan ideologi ini berasal dari pemikiran Lenin sehingga dapat pula disebut "Marxisme-Leninisme".
Dalam komunisme perubahan Josias harus dimulai dari peran Partai Komunis. Logika secara ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh, namun pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil jika bernaung di bawah dominasi partai. Partai membutuhkan peran Politbiro sebagai think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa berhasil jika dicetuskan oleh Politbiro. Inilah yang menyebabkan komunisme menjadi "tumpul" dan tidak lagi diminati.


IdeologiSosialisme
Sosialisme merupakan ideologi yang lebih mengedepankan persamaan / pemerataan derajat antar masyarakatnya. Ideologi Sosialisme berpandangan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri – sendiri. Kerja sama atau gotong royong akan membuat kehidupan dalam bermasyarakat menjadi lebih baik.
Sosialisme mencita-citakan sebuah masyarakat yang didalamnya semua orang hidup dan dapat bekerja sama dalam kebebasan dan solidaritas dengan hak-hak, yang sama. Tujuannya ialah mengorganisir buruh dan menjamin pembagian merata hasil-hasil yang dicapai, memberikan ketenteraman dan kesempatan bagi semua orang. 
Ideologi Fasisme
kata fasisme berasal darikata fasio yang berarti kelompok. Dalam negara fasisme, kontrol pemerintahan bersifat terpusat dan tidak mengenal oposisi, serta munculnya nasionalisme yang berlebihan. Tujuan negara dalam sistem pemerintahan  fasisme adalah membentuk imperium dunia, yaitu mempersatukan seluruh bangsa di dunia menjadi satu kekuatan di bawah satu kepemimpinan.
Contoh negara fasis adalah Italia semasa benito mussolini, Jerman semasa Adolf Hitler, dan Jepang semasaa Teno Heikko ( semasa Perang dunia II)


PERBANDINGAN IDEOLOGI PANCASILA DENGAN IDEOLOGI LAIN menurut aspek-aspeknya.

ASPEK POLITIK HUKUM :

AGAMA
-  Teokrasi
-   Kitab Suci sebagai dasar hukum
-  Pemaksaan agama penguasa terhadap individu

LIBERALISME
-  Demokrasi liberal
-  Hukum untuk melindungi individu
-Dalam politik mementingkan individu



KOMUNISME
-  Demokrasi rakyat
-   Berkuasa mutlak satu parpol
- Hukum untuk melanggeng kan komunis

SOSIALISME
-  Demok rasi untuk kolektivitas
-  Diutamakan kebersamaan
-  Masyarakat sama dengan Negara
-  Tidak setuju dengan demokrasi
FASISME
-  Kekuasaan ada ditangan pemimpin yang dijalankan dengan militerisme
-  Hukum untuk melindungi pemimpin/kekuasaan

PANCASILA
- Demokrasi pancasila
-  Hukum untuk menjunjung tinggi keadilan dan keberadaan individu dan masyarakat

ASPEK EKONOMI

AGAMA
-  Tergantung pada pertanian/perdagangan yang ditentukan oleh alam dan keadaan alam ditentukan oleh Tuhan

LIBERALISME
- Peran Negara kecil
- Swasta mendominasi
- Kapitalisme
- Monopolisme
-   Persaingan bebas

KOMUNISME
- Peran Negara dominan
-   Demi kolektivitas berarti demi Negara
-  Monopoli Negara

SOSIALISME
-  Peran Negara ada untuk pemerataan
- Keadilan distributi yang diutamakan

FASISME
-  Peran Negara kecil
-  Kapitalisme
-  Monopolisme

PANCASILA
-  Peran negara ada untuk tidak terjadi monopoli dll yang merugikan rakyat

ASPEK AGAMA

AGAMA
-   Setiap individu harus ber agama dan menjalan kan ibadah agama kepada Tuhannya karena Tuhan adalah tempat berganTung Semua makhluk

LIBERALISME
-   Agama urusan pribadi
-  Bebas beragama (bebas memilih agama dan bebas tidak beragama)
KOMUNISME
- Agama candu masyarakat
-  Agama harus dijauhkan dari masyarakat
-  Atheis

SOSIALISME
-  Agama harus mendorong berkembang nya kebersamaan
-  Diutamakan kebersamaan
-  Masyarakat sama dengan negara

FASISME
-  Agama candu masyarakat
-  Agama harus dijauhkan dari masyarakat
- Atheis

PANCASILA
-  Bebas memilih salah satu agama
-   Agama harus menjiwai dalam kehidupan bermasyara kat, berbangsa dan bernegara

PANDANGAN TERHADAP INDIVIDU DAN MASYARAKAT

AGAMA
-    Kemulia an individu dan masyara kat dinilai dari tingkat keimanannya dimata Tuhan sebagai mana diamanah kan lewat kitab-Nya

LIBERALISME
-   Individu lebih penting dari pada masyara kat

KOMUNISME
-   Masyarakat di abdikan untuk individu
-   Individu tidak penting dan masyarakat tidak penting

SOSIALISME
-  Kolektivitas yang dibentuk negara lebih penting
-   Masyarakat lebih penting dari pada individu
-   Individu tidak penting

FASISME
-  Masyarakat tidak penting
-  Sosial budaya ditentukan oleh propaganda penguasa sehingga daya kritis masyarakat menjadi mundur

PANCASILA
-   Individu diakui keberadaan nya
-   Hubungan individu dan masyarakat dilandasi 3S (selaras, seimbang, serasi)
-   Masyarakat ada karena ada individu-individu