Quo Vadis Pemimpin
di Indonesia
“Pilih saya, saya akan ini, itu,
bekerja terus menerus, tunduk hanya pada perintah rakyat, menyejahterakan
rakyat, meningkatkan perekonomian, membangun ini, membangun itu”, demikianlah
kata-kata yang selalu dilontarkan dari mulut para calon pemimpin rakyat pada
masa kampanye. Sebahagian orang menjadi bersemangat karena kata-kata mereka,
sebagian lagi menilai ungkapan mereka hanya omong kosong belaka, dan ada
sebahagian lagi yang lebih ekstrim yaitu mereka yang tidak mau tahu, pokoknya
masih bisa makan, “its oke wae” kata
mereka. Tentunya menarik melihat fenomena ini disaat si calon pemimpin
telah meraih kursi yang mereka idamkan. Dapat dilihat pada berbagai media
elektronik dan media cetak, ramai memberitakan tentang pemimpin yang
menghianati amanah rakyatnya. Sebenarnya apa yang salah dari para “sang
pemimpin” sehingga sering disebut demikian?.
Secara materil hampir semua dari
mereka merupakan kalangan kaya sebelum menjadi pejabat, dan hampir semua
memiliki singkatan didepan dan dibelakang namanya yang dapat menjelaskan bahwa
si pemilik nama, mempunyai pendidikan yang tinggi. Bahkan penulis yakin semua
KTP mereka, kolom agamanya terisi dengan jelas. Lalu, kenapa sampai sekarang
masih ditemui pemimpin yang hanya obral janji, tidak amanah, dan kerap
melakukan tindakan KKN. Tentu banyak factor penyebab pemimpin terkesan lain
dimulut lain ditindakan, faktor tersebut diantaranya
1. Kekhilafan atau kesalahan yang
lumrah terjadi.
2. Pemimpin tersebut menjadikan
profesinya sebagai ladang tempat memanen kekayaan dan ketenaran.
3. Pemimpin tersebut hanyalah orang suruhan,titipan bahkan boneka
yang menjadi pemulus kepentingan golongan tertentu, Pada kesempatan kali
ini,penulis tidak membahas terlalu panjang untuk hal ini.
Kurangnya kesadaran tentang hakikat
manusia dan hakikat pemimpin, merupakan faktor utama terjadinya fenomena
diatas. Mereka tahu bahwa mereka manusia tapi kebanyakan dari mereka tidak
mengerti hakikat manusia sebenarnya. Manusia sebenarnya adalah Makhluk yang
diciptakan oleh Allah Subhanahuwata’ala yang dianugerahkan kepadanya akal untuk
berfikir membedakan hal yang benar dan yang salah, selain beribadah kepada Tuhan, manusia mau
tidak mau harus saling berinteraksi satu sama lain, para homo socius ini dituntut untuk menjalin interaksi diantara mereka
dengan dasar kepedulian. Kepedulian ini diwujudkan dengan saling
tolong-menolong, menghormati, serta saling menyejahterakan dan melindungi.
Mengingat pemimpin merupakan seorang yang mempunyai wewenang untuk mengatur
orang banyak, maka Pemimpin menjadi pemeran utama dalam mewujudkan hal diatas,
Seorang pemimpin dihadapkan terhadap dua pilihan, menjadi manusia sebenarnya
dengan memimpin orang banyak kembali kepada hakikat manusia, atau bisa menjadi bukan
manusia jika menyalahi amanah yang diberikan kepadanya dengan sengaja.
Para pemimpin negeri ini
mempertontonkan perilaku yang mementingkan diri sendiri dan golongan, diatas
kepentingan rakyat, hal ini merupakan suatu perwujudan dari sifat keserakahan
terhadap hak mengatur satu sama lain. Mereka saling berseteru, tuduh menuduh,
bahkan saling membunuh demi menancapkan panji kekuasaanya masing-masing, suatu
kenyataan yang tidak patut dicontoh. Pantas saja beberapa orang mendukung
pernyataan Plautus salah seorang filsuf
Humanologi bahwa “manusia merupakan
serigala terhadap manusia lain” (Homo
Homini Lupus) jika melihat sifat-sifat itu. Tentu saja pendapat Plautus ini penulis anggap salah besar karena hanya menilai keseluruhan manusia
secara parsial. Menurut hemat penulis, Suatu penilaian dianggap berlaku umum
jika menilai gambaran keseluruhan sifat objek yang akan dinilai. Manusia
merupakan mahluk berakal dan bersifat sosial.
Kembali kepermasalahan kepemimpinan. Para
pemimpin sudah sepantasnya lebih memperdulikan rakyatnya dibanding kepentingan
pribadi dan golongannya. Pemimpin ditunjuk untuk melaksanakan tugas dan amanah
yang diberikan kepadanya dengan baik dan sebenar-benarnya sebagai mana sumpah
yang pernah mereka ucapkan dibawah kitab suci dengan nama Tuhan. Sudah seharusnya
para pemimpin dinegeri ini diarahkan untuk kembali mengingat janji-janji serta
sumpah mereka. Disamping itu kita harus ingat ungkapan bahwa, pemimpin
merupakan gambaran dari rakyatnya, tentu ungkapan ini mengajak kita kembali
mengintrospeksi diri masing-masing. Apakah masih ada sifat seperti yang
dipertontonkan para pejabat pada diri kita atau tidak. Karena untuk membuat suatu
perubahan besar langkah pertama yang kita harus lakukan adalah mengubah
kebiasaan buruk diri kita sendiri, demi kebaikan kita bersama kedepannya.