Kamis, 05 Februari 2015
Hilangnya Laptop Si Unyil
“Betul, betul, betul” apa yang terlintas dipikiran anda ketika mendengar kalimat tersebut?, pastilah pikiran anda akan mengarah kepada dua sosok tokoh kartun bersaudara asal negeri jiran. Meski pun lebih mirip dengan salah satu makhluk astral asli Negara kita, namun hampir semua orang dinegeri ini, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa mengenal dan menggemari tokoh kartun tersebut. Bukan hanya kartun berkepala pelontos itu, kini makin banyak film kartun berbahasa melaysia yang menghiasi layar kaca Indonesia. Sudah tentu, anak-anak yang menjadi sasaran empuk berbagai dampak yang ditimbulkan film kartun impor tersebut. Tanpa bermaksud mengeyampingkan muatan positif dari kartun tersebut, namun kita patut memperhitungkan dampak negatif yang ditimbulkan serial kartun asal negeri jiran itu.
Jika ditelaah lebih lanjut, selain alur cerita, sebenarnya yang membuat kebanyakan anak-anak tertarik dengan kartun tersebut adalah bahasa dan logat yang diucapkan oleh para tokohnya. Coba kita bayangkan jika kartun tersebut menggunakan bahasa Indonesia, apakah bisa terkenal seperti saat ini ?. Bahasa merupakan salah satu ciri yang menggambarkan besarnya peradaban suatu bangsa selain filsafat dan arsitektur. Melihat betapa pentingnya bahasa, maka kita wajib memproteksi diri dan orang-orang disekitar kita ,akan dampak negatif film-film kartun asal negeri jiran yang dapat mempengaruhi minat penggunaan bahasa pada anak-anak.
Secara Psikologis anak-anak cenderung meniru berbagi hal yang sering mereka lihat dan dengar. Tidak terkecuali bahasa para tokoh diserial film kartun asal Malaysia tersebut. Bahasa Indonesia dan bahasa melaysia sebenarnya berasal dari akar bahasa yang sama, sehingga penyebutan bahasa melaysia lebih mudah dibandingkan bahasa inggris dan bahasa asing lainnya. Dengan mudahnya anak-anak memahami makna bahasa Malaysia ada kecenderungan mereka menganggap bahwa bahasa Malaysia sama dengan bahasa Indonesia dan lebih tertarik menggunakannya dalam pergaulan sehari-hari. Meskipun dalam berbagai film kartun asal Malaysia mempunyai subtitle (terjemahan), tapi coba kita pikirkan dampaknya terhadap anak-anak usia dini yang belum terlalu paham dan lancar membaca dan mengikuti kecepatan munculnya subtitle (terjemahan) difilm tersebut. Anak-anak pun terkesan semakin kehilangan rasa bangga terhadap bahasa bangsanya sendiri. Tentunya hal ini sangat berpengaruh terhadap eksistensi bahasa Indonesia di negeri kita sendiri.
Kian hari makin terlihat, mulai pudarnya identitas bangsa didalam diri para putra-putri bangsa Indonesia akibat tergerus arus Globalisasi yang tidak diimbangi dengan penanaman moral, dan nilai luhur bangsa. Hal ini pun terlihat pada kalangan anak-anak, mulai dari permainan, penampilan dan pola hidup sampai gaya bahasa pun cenderung mulai berubah meniru kebudayaan bangsa lain. Jika Si Unyil sudah sering menggunakan bahasa negeri seberang menggantikan bahasanya sendiri, maka proses belajar si Unyil akan terhambat bahkan terganggu akibat ketidak samaan struktur bahasa Malaysia dan Indonesia.
Tanpa bermaksud mendiskreditkan Bahasa Malaysia, kenyataannya meskipun berasal dari rumpun bahasa yang sama, tetapi bahasa Malaysia sering menggunakan bahasa asing yang disisipkan dalam dialog sehari-hari, serta struktur bahasanya yang rancu jika di digunakan ditengah-tengah masyarakat Indonesia pada umumnya. Bahasa ibaratkan sebuah Laptop, media yang sering kita gunakan untuk belajar dan berkarya saat ini. dimana dengan bahasa kita dapat menggali ilmu pengetahuan satu sama lain. Jika bahasa bangsa sendiri mulai diabaikan oleh para anak-anak, maka si Unyil ibaratkan Kehilangan Laptop sebagai sarana untuk mendapatkan berbagai ilmu pengetahuan. Sudah sewajarnya jika kita mulai berusaha menanamkan nilai luhur bangsa sendiri dan mengedepankan penggunaan bahasa Indonesia kepada para anak-anak kita, calon penerus bangsa.
Sabtu, 31 Januari 2015
Quo Vadis Pemimpin
di Indonesia
“Pilih saya, saya akan ini, itu,
bekerja terus menerus, tunduk hanya pada perintah rakyat, menyejahterakan
rakyat, meningkatkan perekonomian, membangun ini, membangun itu”, demikianlah
kata-kata yang selalu dilontarkan dari mulut para calon pemimpin rakyat pada
masa kampanye. Sebahagian orang menjadi bersemangat karena kata-kata mereka,
sebagian lagi menilai ungkapan mereka hanya omong kosong belaka, dan ada
sebahagian lagi yang lebih ekstrim yaitu mereka yang tidak mau tahu, pokoknya
masih bisa makan, “its oke wae” kata
mereka. Tentunya menarik melihat fenomena ini disaat si calon pemimpin
telah meraih kursi yang mereka idamkan. Dapat dilihat pada berbagai media
elektronik dan media cetak, ramai memberitakan tentang pemimpin yang
menghianati amanah rakyatnya. Sebenarnya apa yang salah dari para “sang
pemimpin” sehingga sering disebut demikian?.
Secara materil hampir semua dari
mereka merupakan kalangan kaya sebelum menjadi pejabat, dan hampir semua
memiliki singkatan didepan dan dibelakang namanya yang dapat menjelaskan bahwa
si pemilik nama, mempunyai pendidikan yang tinggi. Bahkan penulis yakin semua
KTP mereka, kolom agamanya terisi dengan jelas. Lalu, kenapa sampai sekarang
masih ditemui pemimpin yang hanya obral janji, tidak amanah, dan kerap
melakukan tindakan KKN. Tentu banyak factor penyebab pemimpin terkesan lain
dimulut lain ditindakan, faktor tersebut diantaranya
1. Kekhilafan atau kesalahan yang
lumrah terjadi.
2. Pemimpin tersebut menjadikan
profesinya sebagai ladang tempat memanen kekayaan dan ketenaran.
3. Pemimpin tersebut hanyalah orang suruhan,titipan bahkan boneka
yang menjadi pemulus kepentingan golongan tertentu, Pada kesempatan kali
ini,penulis tidak membahas terlalu panjang untuk hal ini.
Kurangnya kesadaran tentang hakikat
manusia dan hakikat pemimpin, merupakan faktor utama terjadinya fenomena
diatas. Mereka tahu bahwa mereka manusia tapi kebanyakan dari mereka tidak
mengerti hakikat manusia sebenarnya. Manusia sebenarnya adalah Makhluk yang
diciptakan oleh Allah Subhanahuwata’ala yang dianugerahkan kepadanya akal untuk
berfikir membedakan hal yang benar dan yang salah, selain beribadah kepada Tuhan, manusia mau
tidak mau harus saling berinteraksi satu sama lain, para homo socius ini dituntut untuk menjalin interaksi diantara mereka
dengan dasar kepedulian. Kepedulian ini diwujudkan dengan saling
tolong-menolong, menghormati, serta saling menyejahterakan dan melindungi.
Mengingat pemimpin merupakan seorang yang mempunyai wewenang untuk mengatur
orang banyak, maka Pemimpin menjadi pemeran utama dalam mewujudkan hal diatas,
Seorang pemimpin dihadapkan terhadap dua pilihan, menjadi manusia sebenarnya
dengan memimpin orang banyak kembali kepada hakikat manusia, atau bisa menjadi bukan
manusia jika menyalahi amanah yang diberikan kepadanya dengan sengaja.
Para pemimpin negeri ini
mempertontonkan perilaku yang mementingkan diri sendiri dan golongan, diatas
kepentingan rakyat, hal ini merupakan suatu perwujudan dari sifat keserakahan
terhadap hak mengatur satu sama lain. Mereka saling berseteru, tuduh menuduh,
bahkan saling membunuh demi menancapkan panji kekuasaanya masing-masing, suatu
kenyataan yang tidak patut dicontoh. Pantas saja beberapa orang mendukung
pernyataan Plautus salah seorang filsuf
Humanologi bahwa “manusia merupakan
serigala terhadap manusia lain” (Homo
Homini Lupus) jika melihat sifat-sifat itu. Tentu saja pendapat Plautus ini penulis anggap salah besar karena hanya menilai keseluruhan manusia
secara parsial. Menurut hemat penulis, Suatu penilaian dianggap berlaku umum
jika menilai gambaran keseluruhan sifat objek yang akan dinilai. Manusia
merupakan mahluk berakal dan bersifat sosial.
Kembali kepermasalahan kepemimpinan. Para
pemimpin sudah sepantasnya lebih memperdulikan rakyatnya dibanding kepentingan
pribadi dan golongannya. Pemimpin ditunjuk untuk melaksanakan tugas dan amanah
yang diberikan kepadanya dengan baik dan sebenar-benarnya sebagai mana sumpah
yang pernah mereka ucapkan dibawah kitab suci dengan nama Tuhan. Sudah seharusnya
para pemimpin dinegeri ini diarahkan untuk kembali mengingat janji-janji serta
sumpah mereka. Disamping itu kita harus ingat ungkapan bahwa, pemimpin
merupakan gambaran dari rakyatnya, tentu ungkapan ini mengajak kita kembali
mengintrospeksi diri masing-masing. Apakah masih ada sifat seperti yang
dipertontonkan para pejabat pada diri kita atau tidak. Karena untuk membuat suatu
perubahan besar langkah pertama yang kita harus lakukan adalah mengubah
kebiasaan buruk diri kita sendiri, demi kebaikan kita bersama kedepannya.
CINCIN BATU BACAN, boleh atau tidak ?
Fenomena cincin batu bacan, mungkin itu topik yang sedang hangat ditengah masyarakat Sulawesi selatan akhir ini. Contohnya, dapat dilihat langsung di Jalan Aroepala-Tun Abdul Razak ( Hertasning baru ), dari pagi hingga petang ramai warga datang ke pera pedagang yang menjual cincin beraneka warna tersebut. Tapi apa sajakah motivasi orang-orang tersebut untuk memakai Cincin batu bacan ? Ini yang harus dipertanyakan, jangan sampai motivasi yang tidak didasari oleh ilmu itu, dapat mengantarkan kita ke jurang kesyirikan(mempersekutukan Allah). Memang memakainya tidak apa-apa, asal sesuai dengan kaidah pemakaian cincin sesuai Syariat islam yang saya tuangkan dalam beberapa poin berikut ini :
1) Larangan mengenakan cincin pada jari tengah dan telunjuk hanya berlaku bagi laki-laki, adapun bagi wanita dibolehkan, telah dinukil ijma’ kebolehannya bagi wanita oleh An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim, demikian pula yang difatwakan Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah
2) Laki-laki boleh mengenakan cincin perak, sedangkan emas diharamkan bagi laki-laki, baik emas murni maupun bercampur dengan bahan lain, baik cincin maupun perhiasan lainnya ataupun jam tangan yang bercampur emas, semuanya diharamkan bagi laki-laki
3) Wanita boleh mengenakan cincin emas maupun perak, bahkan sebagian ulama telah menukil ijma’ akan kebolehannya, sehingga pendapat yang melarangnya sangat lemah
4) Memakai cincin besi dan tembaga terlarang bagi laki-laki maupun wanita karena keduanya merupakan pakaian penduduk neraka, sehingga dilarang oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam
5) Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengenakan cincin beliau pada jari kelingking, sebagian ulama membolehkan di jari manis
6) Boleh mengenakan cincin di tangan kanan maupun kiri, selain pada dua jari yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits di atas
7) Tukar cincin bagi pengantin tidak disyari’atkan, bahkan hal itu dapat mengandung tiga macam kemungkaran:
Pertama: Tasyabbuh kepada orang-orang kafir.
Kedua: Jika calon pengantin belum melakukan akad nikah atau bahkan masih pacaran (baca: pengantar kepada zina) maka hukumnya haram jika mereka saling bersentuhan.
Ketiga: Jika terdapat keyakinan bahwa selama cincin itu masih digunakan oleh pasangannya maka hubungan mereka akan langgeng maka hal ini termasuk syirik (menyekutukan Allah ta’ala), sebab hanya Allah ta’ala Yang Maha Mampu melanggengkan hubungan keduanya. Demikian faidah dari Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullahu ta’ala dan Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullahu ta’ala. (Sofyan,2013)
Ada pun mengenai Bebatuan yang melekat pada cincin, berikut ini adalah beberapa hadts dan riwayat Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam yang saya paparkan berikut ini
Beberapa riwayat menerangkan bahwa Nabi sendiri juga mengenakan cincin yang terpasang di jari kelingkingnya sebagaimana hadis riwayat Anas bin Malik mengatakan, Cincin Rasulullah terbuat dari perak dan batunya merupakan batu Habasyi, (H.R. Muslim & Tirmidzi), hadis ini diderajatkan hasan sahih, dan dishahihkan oleh Al-Albani.
“Dari Anas bin Malik ra ia berkata, bahwa cincin Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam itu terbuat dari perak dan mata cincinya itu mata cincin Habasyi”. (H.R. Muslim)
Ilham kadir (dalam AS Kambie , 2015) mengemukakan bahwa "Dalil di atas juga menunjukkan bahwa batu cincin Rasulullah berjenis Habsyi, sejenis batu berwarna hitam kemerah-merahan yang berasal dari Afrika, riwayat lain menyebutkan, Batu Akik Yaman. Jenis batu ini dapat ditemui di Afrika dan Yaman, dan ciri-cirinya dikenali dengan warna merah tua pekat atau merah darah, walau terlihat kehitam-hitaman, jika diliat dengan cahaya laser akan terpancar merah tua pekak, tidak jauh beda dengan batu bacan asal Indonesia.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, memakai batu Cincin batu bacan diperbolehkan asal sesuai dengan Hukum Islam yang tertuang dalam anjuran Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam,
Demikian tulisan singkat saya ini, semoga bermanfaat. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu
Penulis : ISMAIL
Kritik yang membangun sangat diperlukan oleh penulis untuk memperbaiki tulisan-tulisan selanjutnya.
Langganan:
Postingan (Atom)